Kedatangan mas covid-19 ini benar-benar punya dampak besar buat seluruh aspek kehidupan bermasyarakat. Mulai dari pendidikan, ekopolsosbud hankamnas, sampe hal yang paling mendasar agama dan sara. Semua tidak luput dari jangkauannya yang memporakporandakan tatanan yang sudah ada. Menghancurkan sendi-sendi kehidupan setiap negara yang telah disinggahinya.
Dia sih enak, kecil, mungil, tak kasap mata, udah gitu hidup ga pake modal lagi. Iya kan?? Dia kan parasit, ga bakalan bisa hidup kalau ga nempel pada inangnya. Ngambil makan minum dari inangnya tanpa permisi. Tapi sebenarnya dia goblok lho, dia bikin inangnya sakit, kalau inangnya mati kan dia ikut mati.
Adanya pandemi ini membawa dampak besar pada tatanan pendidikkan di indonesia, sekolah dari tk sampai perguruan tinggi diliburkan, tak terkecuali tempat-tempat kursus dan bimbel. Istilahnya sih bukan libur tapi belajar dirumah, dikasih PR dan tugas tiap hari secara daring. Trus siapa yang ngajari mereka? siapa yang ngawasi? Ya tentu saja orang tuanya, dalam hal ini sudah pasti kebanyakkan emak-emaknya.
Sehari...dua hari...seminggu, emak masih ok ok wae. Menginjak minggu kedua emak mulai garuk-garuk kepala, cincing-cincing lengan, mulut mulai komat-kamit susah dikontrol. Si anak yang disebelahnya mulai jaga jarak sama emaknya sendiri, belajar sangu tameng tutup panci. Lho buat apa? Takut tiba-tiba ada tapak budha lima jari mendarat di pipi, atau capit kepiting memakan lengan atau pahanya. Si emak ngajari sambil sangu timun , untuk apa?? Siap-siap kalau-kalau darah tingginya kumat.
Saya memang belum merasakan spaneng yang dialami emak-emak tersebut, anakku belum sekolah. Liburan ala covid-19 ini dampaknya bagi saya adalah rumah saya jadi ramai, karena ponakan pada suka main kerumah bahkan tidur berhari-hari dirumah. Saya ga pusing mikirin PR anak, pusing mikir bikin camilan apalagi sekarang ya.
Suatu hari ada nasi sisa kemarin, mau digoreng kok ya bosen keseringan makan nasi goreng. Mau di jemur, matahari lagi malas menyinari bumi. Dibuang, sayang. Teringat pernah sekilas baca resep cireng nasi. Ternyata bahan-bahannya ada semua di dapur. Dan mulai beraksilah jari-jemariku mengulet-ulet nasi dan bahan-bahan lainnya. Untuk resepnya bisa tanya di mbah gugle ya.
Tak disangka ternyata anak-anak pada suka. Yaahhh...meskipun soal rasa dibawah rata-rata dibadingkan kalau beli. Maklum saya ga pinter masak, cuman ada keinginan masak. Tapi ini lumayan bisa ngirit atawa menghemat. Kalau beli sebungkus 10.000, resep yang saya bikin bisa jadi 3 bungkus, 30.000 dong. Kalau bikin sendiri cuman abis 5.000, karena nasinya ga beli ya, pake nasi sisa kemarin. Dan lebih sehat karena masak sendiri, bumbunya alami.
Well....kapan-kapan kalau ada nasi sisa bikin lagi aahhh...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar